Showing posts with label Seputar Fiqih. Show all posts
Showing posts with label Seputar Fiqih. Show all posts

Sunday, August 12, 2018

Ketaatan dan Maksiat Tidak Akan Memberi Manfaat Atau Keburukan Kepada Allah

Setiap ketaatan yang dilakukan manusia sedikitpun tidak akan memberikan manfaat kepada Allah SWT, tetapi kemanfaatan itu akan kembali kepada dirinya sendiri, begitu juga jika manusia melakukan kemaksiatan sedikit pun tidak akan memberikan mudhorot kepada Allah, tetapi kemudhorotan itu akan kembali kepada dirinya.


Kedudukan dan kemuliaan Allah selamanya tidak akan dapat dirubah oleh ketaatan maupun oleh kemaksiatan, Maha suci Allah dari sifat menggantungkan diri pada suatu yang lain.

Sehubunganan dengan hal ini Syeh ibnu Atho' pernah mengatakan "Tidak akan menambah di dalam kemuliaannya kebaktian orang yang berbakti kepadanya, dan tidak akan mengurangi kemuliaannya kemaksiatan orang yang berpaling dari padanya".

Oleh karena kita semua telah mengetahui bahwa ketaatan itu manfaatnya untuk diri kita sendiri dan kemaksiatan itu mudhorotnya juga untuk diri kita sendiri, maka kita tentu tidak akan begitu bodoh dengan membiarkan diri sendiri terjerumus kedalam bahaya dengan melakukan perbuatan-perbuatan yang dilarang Allah.

Baca Juga:  Membedakan Darah Haid Dengan Darah Istihadhah

Sebaliknya bagi orang-orang yang beriman dan mau menggunakan akal sehatnya, mereka akan memelihara dan menjaga keselamatan dirinya dengan banyak berbuat amal kebajikan dan amal sholeh serta meningkatkan ketaqwaannya kepada Allah.

Firman Allah dalam Al-Quran surat Qoof ayat 31-32, yang artinya "Dan didekatkanlah syurga itu kepada orang-orang yang bertaqwa pada tempat yang tiada jauh dari neraka inilah yang di janjikan kepadamu, yaitu kepada setiap hamba yang selalu kembali kepada Allah lagi memelihara peraturan-peraturannya".

Adapun ciri-ciri atau sifat-sifat orang yang memelihara peraturan-peraturan Allah adalah seperti yang tersebut dalam Hadist Riwayat Tirmidzi berikut ini, yang artinya : Dari Abu Abbas Abdullah bin Abbas ra berkata, ketika pada suatau hari aku berada di belakang Rasulullah SAW di atas punggung unta maka beliau berkata.

Baca Juga:  Beginilah Bentuk Tubuh dan Fisik nya Penghuni Surga

"Hai anak, aku ajarkan kepadamu beberapa kalimat yang menjadi pegangan yaitu, peliharalah peraturan-peraturan Allah dimana saja kamu berada, niscaya dia akan menjaga kamu apabila kamu memohon, maka mohonlah kepada Allah dan jika kamu meminta pertolongan mintalah pertolongan kepadanya".

"Ketahuilah bahwa walaupun seluruh manusia berkumpul untuk memberikan sesuatu manfaat kepadamu, mereka tidak akan dapat memberikan kemanfaatan itu kecuali sekedar yang ditentukan Tuhan untukmu".

"Begitupula mereka tidak akan berhasil menimpakan suatu bencana kepadamu, kecuali bencana yang sudah di tentukan Tuhan atas mu, pena sudah di angkat kering dan buku sudah di tutup".

Sesuai dengan petunjuk Rasulullah di atas ada tiga hal pokok yang berkaitan dengan memelihara diri terhadap ketentuan Allah, ketiga hal tersebut adalah:

  • Memelihara diri dalam setiap situasi
Yang dimaksud dengan memelihara diri disini menjaga jangan sampai terjerumus kedalam perbuatan dosa dan maksiat, pada dasarnya pemeliharaan diri kepada ketentuan-ketentuan Allah itu ada dua macam, yaitu terhadap kenikmatan dan kenikmatan hidup akhirat.

  • Hanya meminta pertolongan kepada Allah.
Dalam keadaan bagaimanapun juga seseorang tidak akan mampu berbuat atau berkehendak atas kemampuannya sendiri dalam memenuhi kebutuhan hidupnya seseorang selalu membutuhkan pertolongan, karena itu dalam meminta pertolongan sesorang  hendaknya hanya kepada Allah sebagaimana firman Allah dalas surat Yasin ayat 106 yang artinya:

"Dan janganlah kamu berdoa memohon kepada Allah yaitu barang yang tidak mendatangkan manfaat kepadamu dan tidak pula memberikan bahaya mudhorot jika kamu berbuat demikian maka kamu akan termasuk dalam golongan orang-orang yang zalim.

  • Segala sesuatu terjadi karena menurut kehendak Allah.
Kalau segala sesuatu itu terjadi karena kehendak Allah maka hal ini berarti kekuasaan Allah itu mutlak adanya, karena kalau tidak mutlak maka segalanya mungkin tidak akan terjadi atau berganti dengan kejadian yang lain seperti dalam firman Allah Surat Al-Hadad ayat 22 yang artinya :

"Tiada suatu bencanapun yang menimpa di muka bumi ini dan tidak pula pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab lauhul Mahfudz sebelum kami menciptakannya, sesungguhnya yang demikian itu adalah soal yang mudah bagi Tuhan. 







Thursday, July 26, 2018

Membedakan Darah Haid Dengan Darah Istihadhah

Sebagian wanita tidak bisa membedakan antara darah haid dengan darah istihadhah terkadang darah itu keluar terus, lalu ia meninggalkan sholat selama darah tetap keluar lalu bagaimana hukum orang yang semacam ini.


Haid adalah darah yang telah di tetapkan oleh Allah atas seluruh putri Adam, setiap bulan pada umumnya, sebagaimana yang telah dijelaskan dalam Hadist shahih dari Rasulullah saw. Wanita yang mendapatkan dara istihadah ada tiga golongan:
  • Wanita yang baru mendapatkan haid, jika ia mendapatkan haid setiap bulan, maka ia tidak shalat dan tidak shaum, serta tidak halal bagi suaminya untuk berjima' dengannya hingga ia suci.
Dan menurut jumhur ulama, masa haid itu maksimal lima belas hari, atau kurang dari itu, jika darah itu tetap keluar lebih dari lima belas hari. maka hal itu dinamakan darah istiadhah untuk wanita yang seperti ini diharuskan untuk menghitung hari-hari haidnya selama enam hari, atau tujuh hari sebagai sikap hati-hati.

Baca Juga: Kematian Ibu dan Kakek Nabi Muhammad SAW
 
Atau bisa dengan mengikutikebiasaan wanita-wanita yang sebaya dengannya dari keluarga dekatnya, jika ia tidak dapat membedakan antara darah haid atau dengan lainnya.

  •  Jika ia mampu membedakan antara darah haid dengan selainnya, ia meninggalkan shalat, shaum, atau jima' dengan suaminya selama keluarnya darah haid yang dikenal, hitam atau dengan bau tidak sedap kemudian jika darah itu tidak keluar lagi, ia mandi dan shalat, dengan syarat bahwa darah tersebut keluar tidak lebih dari lima belas hari.
  • Bahwa ia telah mempunyai kebiasaan yang jelas atau tetap, ia meninggalkan shalat, shaum, dan jima'' pada masa haidnnya yag tetap itu, lalu jika darah masih tetap keluar lebih dari kebiasaannya, maka ia mandi pada hari akhir kebiasaannya, lalu berwudhu untuk setiap waktu shalat, jika waktu shalat telah tiba, selama darah istiadhah tetap keluar dan ia telah halal bagi suaminya (boleh jima' dengan suaminya) sampai tiba waktu haid bulan berikutnya.
 Inilah kesimpulan dari hadist-hadist Nabi yang berkaitan dengan wanita yang istiadhah atau bila masa haid nya berbeda pada kebiasaannya atau lebih dari lima belas hari maka hal itu dinamakan darah istiadhah

Friday, May 18, 2018

Hukum Membentuk Khilafah Dalam Islam dan apa itu Khilafah

Al Khilafah sebenarnya adalah soal politik dan ketatanegaraan karena itu bukanlah disini tempat untuk mengupasnya, tetapi dalam tulisan di sini khusus membicarakan tentang tatanegara atau politik tulisan ini hanya sekedar menggambarkan dimana hukum-hukum Islam itu akan berjalan lancar dan baik dalam masyarakat andai tatanegara itu berdasar hukum-hukum Islam.



Dan mengingat khilafah itu tak sunyi dari mengandung beberapa hukum terutama mengenai hukum penyusunan negara. kepala negara pemilihan khalifah hak memilih dan di pilih sebagainya.

Al Khilafah ialah sesuatu susunan pemerintah yang di atur menurut ajaran agama Islam sebagai yang di bawa dan di jalankan oleh Nabi Muhammad saw semasa hidup beliau dan kemudian di jalan kan oleh Khulafaour Rasyidin ( Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abu Thalib) kepala negaranya di namakan Khalifah.

Baca Juga: Al Qur'an di Masa Khalifah Utsman bin Affan

Al Khilafah dapat di tegakkan dengan perjuangan umat Islam yang teratur menurut keadaan dan tempat masing-masing umat, baik berbentuk nasional untuk sebagian umat muslimin yang merupakan suatu bangsa yang memperjuangkan suatu negara yang telah mereka tentukan batas-batas nya sebagaimana telah terjadi mulai dari khilafah Umawiyah, khilafah 'Abbasiyah dan lain-lain sesudah itu khilafah-khilafah itu di akui dan di taati oleh ulama Muslimin atau berbentuk umum internasional untuk seluruh Islam sedunia.

Baca Juga: Ketika Dajjal Mengaku Dirinya Sebagai Tuhan

Hukum Membentuk Khilafah
 Telah sepakat umat muslimin (Ijma' yang Mu'tabar) bahwa hukum mendirikan khilafah itu adalah fardu kifayah atas semua umat muslim Alasananya sebagai berikut:

  • Ijma' sahabat sehingga mereka mendahulukan permusyawaratan tentang khilafah daripada urusan janazah Rasulullah saw, ketika itu sungguh ramai di bicarakan soal khilafah oleh pemimpin-pemimpin Islam berupa perdebatan, pertimbangan, akhirnya tercapailah kata sepakat memilih Abu Bakar menjadi Khalifah, kepala negara Islam yang pertama sesudah meninggalnya Rasulullah saw.
  • Tidak mungkin dapat menyempurnakan kewajiban seperti pembelaan agama mejaga ke amanan dan sebagainya melainkan dengan adanya khilafah (pemerintahan)
  • Beberapa ayat dan Hadist yang menyuruh kita umat Islam mentaatinya dengan tegas menjadi janji yang pasti daripada Allah SWT  kepada Muslimin yang mula-mulanya di waktu itu hidup dalam ketakutan kegelisahan dan ke zaliman tetapi mereka terus berjuang untuk menegakan khalifah di muka bumi Allah berfirman:

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الأرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ (٥٥)

Artinya : Allah SWT telah menjanjikan kepada orang-orang mukmin dan orang-orang yang beramal di antara kamu bahwa mereka akan menjadi khalifah di muka bumi sebagaimana orang-orang dahulu telah menjadi khalifah, dan Allah akan menetapkan agama mereka (Islam) yang di redhoinya bagi mereka dan Allah akan mengganti ketakutan mereka dengan keamanan (AnNur: 55)

Dasar-dasar khilafah
Kalau kita ikuti dengan penyelidikan yang seksama nyatalah bahwa khilafah/pemerintahan yang di jalankan oleh Khulafaur Rasyidin berdasar atas
  • Kejujuran dan Keihlasan serta bertanggung jawab dalam menyampaikan amanah kepada ahlinya (rakyat) dengan tidak membeda-bedakan bangsa dan warna
  • Keadilan yang mutlaq terhadap segala manusia dalam segala sesuatunya
  • Tauhid (mengesakan Allah) sebagaimana di perintahkan dalam ayat-ayat Al Qur'an supaya mentaati Allah dan Rasulnya
  • Kedaulatan rakyat yang dapat di pahami dari perintah Allah yang mewajibkan kita taati kepada Ulil Amri (wakil-wakil rakyat) seperti dalam firman Allah 
yang artinya : "Sesungguhnya Allah memerintahkan kepada kamu (pemimpin-pemimpin) supaya menunaikan amanah kepada ahlinya (rakyat) dan apabila kamu (hakim-hakim) hendak memutuskan sesuatu sesungguhnya amat baik pelajaran yang di ajarkan Allah, sesungguhnya Allah mendengar lagi melihat, hai segenap orang-orang beriman taatilah hukum Allah dan taatilah hukum Rasulnya dan hukum Ulil Amri (pemimpin-pemimpin yang di taati di antara kamu, maka jika terjadi pertentangan paham dalam sesuatu perkara Ulil Amri (wakil-wakil dari kamu) hendaklah kembali kepada hukum Allah dan Rasulnya. Demikianlah jalan yang sebaik-baiknya dan sebagus-bagusnya (An Nisa 58-59)

Menurut ahli tafsir imam Muhammad Fkhruddin Razi dalam kitab tafsirnya Mafathul ghaib beliau tafsirkan Ulil Amri di suatu tempat dengan Ahlul Hallil Wal Aqdi ( alim ulama cerdik pandai pemimpin-pemimpin yang di taati oleh rakyat) dan di lain tempat beliau tafsirkan dengan Ahli Ijma (ahli-ahli yang berhak memberi putusan)

Hak mengangkat dan memecat Khalifah
Telah sepakat ulama bahwa memilih khalifah adalah fardhu kifayah atas Ahlul Hallil Wal 'aqdi dikalangan umat hanya mereka berlain faham dalam mengartikan kata Ahlul Hallil Wal 'Aqdi siapakah, bagaimanakah sifat Ahlul Halli Wal 'Aqdi itu, 

Yang dimaksud Ahlul Halli Wal "aqdi ialah para ulama cerdik pandai dan pemimpin-pemimpin yang memiliki kedudukan dalam masyarakat di percaya oleh seluruh rakyat sehingga buah pilihan mereka nanti akan di taati serta di tunduki oleh seluruh rakyat.

Menurut riwayat yang sah hendaklah pemilihan itu dengan sepakat mereka (Ahlul Halli Wal 'Aqdi) atau sedikitnya dengan sepakat mereka yang lebih terkemuka dari kalangan ahli pengetahuan.

Sebagian ahli fiqih berpendapat cukup dengan lima orang dari Ahlul Halli Wal 'Aqdi, mereka beralasan dengan pengangkatan Utsman yang di serahkan kepada enam orang yang di calonkan oleh Umar (khalifah kedua) maka Utsman di angkat oleh lima orang calon dari enam calon tadi.



Monday, May 14, 2018

Hukum Bersuci dan Jenis Air Dalam Islam

Bersuci
Dalam hukum Islam, bersuci dan berbagai seluk-beluknya adalah bagian ilmu dan amalan yang penting, terutama dalam hal persyaratan sembahyang telah diihinkan yang akan melakukan sembahyang Wajib suci dari hadast dan suci pula badan, pakaian dan tempat dari najis Seperti dalam Firman Allah swt.

ويسألونك عن المحيض قل هو أذى فاعتزلوا النساء في المحيض ولا تقربوهن حتى يطهرن فإذا تطهرن فأتوهن من حيث أمركم الله إن الله يحب التوابين ويحب المتطهرين (222)
Artinya: Mereka bertanya kepada mu tentang Haid kemudian katakanlah, haid itu adalah kotoran, oleh karena itu seharusnya kamu menjauhkan diri dari wanita di haid, dan janganlah kamu melukis mereka sebelum mereka suci, mereka telah suci, kemudian campurilah mereka itu di tempat yang di per firman Allah kepada mu, sesungguhnya Allah orang-orang yang bertaubat dan orang-orang yang mensucikan diri.

Islampos.com

Bersuci ada dua bagian.
1.  Bersuci dari hadast bagian ini dengan badan, seperti mandi, mengambil udara sembahyang (Berwudhu) dan tayammum.
2. Bersuci dari najis bagian ini berlaku pada badan, pakaian dan tempat.

Macam-macam dan pembagian AIR.
 Sebuah. Air yang suci dan mensucikan udara yang demikian bisa di minum dan di pakai untuk mensucikan benda yang lain. udara yang terkena dari langit dan masih tetap (belum berubah) ke adaannya seperti, air hujan, udara laut, udara sumur, udara yang sudah cair kembali, udara embun dan udara yang keluar dari mata air.seperti Allah dalam surat Al Anfal ayat 11

إذ يغشيكم النعاس أمنة منه وينزل عليكم من السماء ماء ليطهركم به ويذهب عنكم رجز الشيطان وليربط على قلوبكم ويثبت به الأقدام (11) 

 Artinya: Ingatlah membuat Allah dengan Anda mengantuk dari penentraman daripadanya, dan Allah menurunkan kepadamu dari langit untuk mensucikan kamu dengan hujan itu dan gangguan syaitan dan untuk menguatkan dan memperteguh bersama telapak kakimu

Baca Juga:  Mengenal Sejarah Empat Mazhab Imam Besar Dalam Islam

Rasulullah melihat bersabda: Telah meminta seorang laki-laki kepada Rasulullah, kata laki-laki itu "Ya Rasulullah kami berlayar di laut dan kami hanya membawa udara sedikit, jika kami memakai udara itu untuk berwudhu mereka tidak dapat minum, bolehkah kami berwudhu dengan udara laut , jawab Rasulullah melihat Air laut itu suci lagi mensucikan, bangkainya halal di makan, Riwayat Lima ahli Hadist, menurut keterangan Tirmidzi hadis ini hasan sahih

Tatkala Nabi yang mulia di tanya Wajahnya (Budha'ah), Beliau mengatakan: airnya tidak di najisi sesuatu apapun, Riwayat Ahmad dan Tarmidzi.
Perubahan udara yang tidak menghilangkan ke sana atau sifat suci mensucikan lebih baik lagi pada suatu sifat-sifat yang tiga (warna, rasa, dan baunya), adalah sebagai berikut.
  • Berubah dengan alasan, seperti udara yang tergenang atau mengalir di batu belerang
  • Berubah karena lama berdiri, seperti air kolam
  • Berubah karena sesuatu yang terjadi, seperti berubah dengan sebab ikan 
  • Berubah dengan alasan tanah yang suci, seperti dan juga yang sangat memeliharanya, seperti diubah oleh sebab daun-daunan yang jatuh dari pohon-pohon yang berdekatan dengan sumur atau tempat-tempat udara itu.
b. Air suci tidak mensucikan berarti zat nya suci tetapi tidak sah dipakai untuk mencuci sesuatu, termasuk dalam hal tiga macam air ini
  • Air yang telah berubah salah satu sifatnya dengan sebab bercampur dengan sesuatu benda yang suci selain dari pada perubahan yang tersebut di atas, seperti air kopi, teh dan lainya.
  • Air sedikit berarti kurang dari dua qullah, sudah terpakai untuk mengangkat hadast atau menghilangkan hukum najis, sedang air itu tidak berubah sifat nya dan tidak pula bertambah timbangannya
  • Air pohon-pohonan atau air buah-buahan seperti air yang keluar dari tekukan pohon kayu (air nira), air kelapa dan sebagainya.
c. Air yang bernajis air yang masuk bagian ini ada dua macam
  • Sudah berubah salah satu sifat nya dengan najis, air ini tidak harus (tidak boleh) di pakai lagi, baik air nya sedikit maupun banyak hukum nya seperti najis.
  • Air bernajis tetapi tidak berubah salah satu sifat nya, air ini kalau sedikit atau kurang dari dua qullah, tidak boleh di pakai lagi dan hukum nya sama dengan najis, kalau air itu banyak berarti dua qullah atau lebih hukum nya tetap suci mensucikan.
Sabda rasulullah saw: "Air itu tidak di najisi sesuatu, kecuali apabila berubah rasany atau warna nya atau baunya, Riwayat Ibnu Majah dan Baihaqi" dan dalam hadist yang lain rasulullah bersabda:"Apabila cukup air dua qullah tidaklah dinajisi oleh sesuatu apapun. Riwayat Lima Ahli Hadist.

d. Air yang makruh di pakai yaitu yang terjemur pada matahari dalam bejana selain bejana emas atau perak, air ini makruh di pakai untuk badan, tidak untuk pakaian, terkecuali air yang terjemur di tanah seperti air sawah, air kolam dan tempat-tempat yang bukan bejana yang mungkin berkarat.

Rasulullah saw bersabda : Dari 'Aisyah sesungguh nya ia telah memanaskan air pada cahaya matahari, maka berkata Rasulullah kepadanya, Janganlah engkau berbuat demikian ya 'Aisyah, sesungguhnya air yang di jemur itu dapat menimbulkan penyakit sopak. Riwayat Baihaqi.

Friday, May 11, 2018

Mengenal Sejarah Empat Mazhab Imam Besar Dalam Islam

Disebutkan bahwa alim ulama begitu cerdik dan pandai dalam berbagai kejahatan tidak ada nas dari Al Qur'an atau Hadist mereka ber Ijtihad, dinamakan mazhabnya, Ulama yang memiliki mazhab yang terkenal banyak hanya hanya empat orang saja.

Seperti Hasan Basri, As Tsaury Ibnu Abi Laila, al-Auza'iy, Al Laitsy dan lain lain mereka memiliki mazhabnya sendiri sendiri mazhab mereka tidak terus berkembang seperti mazhab yang berempati.


1.  Mazhab Hanafi. Penyusunnya imam Abu Hanifah beliau di lahirkan tahun 150 H. Beliau belajar di Koufa dan di sanalah beliau mulai menyusun mazhabnya, kemudian beliau duduk berfatwa mengembangkan ilmu pengetahuan di Bagdad, beliau memberikan penerangan pada segenap lapisan Muslim Ludus terkenal sebagai seorang alim yang besar di masa itu.

 Mahir dalam ilmu fiqih pandai mengistinbathkan hukum dari Al Qur'an dan Hadist menurut riwayat yang dapat di percaya bahwa beliau adalah wadhi ilmu fiqih (yang mula-mula menyusun ilmu fiqih sebagai susunan sekarang ini).

Telah bergaul dengan Abu Hanifah beberapa ulama mereka pelajari mazhab itu dan mereka tulis (bukukan) hukum yang mereka dapat dari beliau itu, mereka adalah sebagai penyokong mazhab Abu Hanifah kemuadian sebagian dari mereka kembali meyelidiki dan memeriksa, dalil-dalil nya serta di sesuaikan dengan keadaan-keadaan kefaedahan dan kemudharatan nya.

Sehingga mereka tidak mufakat dengan sebagian dari hukum-hukum  yang telah di tetapkan oleh imam tadi bahkan mereka tetapkan pada hukum nya menurut pendapat mereka yang di namakan sahabat-sahabat Abu Hanifah, di antaranya Abu Jusuf, Muhammad bin Hasan dan Zufar. Mazhab ini banyak tersiar di negeri-negeri Bagdad, Parsi, Bukhara, Mesir, Syam dan tempat-tempat lain.

2. Mazhab Maliki. Nama penyusunnya Malik bin Anas Al Ashbhi, beliau di lahirkan tahun 93 H. Beliau belajar di Madinah dan di sanalah beliau menulis kitab Al Muattha kitab Hadist yang terkenal sampai sekarang, Beliau menyusun kitab tersebut atas anjuran khalifah Manshur ketika beliau bertemu diwaktu hajji.

Beliau menyusun mazhab beliau atas empat dasar, Kitab Suci, Sunnah Rasul, Ijma dan Qias, Hanya dasar yang terakhir beliau gunakan dalam hal-hal yang terbatas sekali, karena beliau ahli hadist Beliau berkata : Sesungguhnya saya sebagai manusia biasa kadang-kadang betul, kadang-kadang salah, maka hendaklah kamu periksa kamu selidiki pendapat-pendapat ku itu mana yang sesuai dengan sunnah ambillah.

3. Mazhab Syafi'i. Nama penyusunnya Muhammad bin Idris bin Syafi'i turunan bangsa Quraisy, Beliau dilahirkan di Khuzzah tahu 150 H. dan meninggal dunia di Mesir tahun 204 H. Sewaktu beliau berumur 7 tahun telah hafaz Al Qur'an, setelah beliau  berumur 10 tahun beliau hafaz Al Muattha ( Kitab guru beliau Imam Maliki). Setelah beliau berumur 20 tahun beliau mendapat izin dari gurunya(Muslim bin Khalid) untuk berfatwa.

Kata Ali bin Usman: Saya tidak pernah melihat yang lebih pintar dari Syafi'i, sesungguhnya tidak ada seorang pun yang menyamainya di masa itu, yang pintar dalam segala pengetahuan sehingga bila ia melontarkan anak panah dapat di jamin sembilan puluh persen akan mengenai sasarannya.

Setelah beliau berumur hampir 20 tahun beliau pergi ke Madinah karena mendengar kabar Imam Malik yang begitu terkenal seorang alim besar dalam ilmu hadist dan fiqih, disana beliau belajar kepada Imam Malik, kemudian beliau berjalan ke Iraq disana beliau bergaul dengan sahabat-sahabat Imam Abu Hanifah.dan beliau terus ke Parsi dan beberapa negeri lain, kira-kira dua tahun habis masa beliau dalam perjalanan ini.

Referensi Muslim
Dalam perjalanan beliau ke negeri-negeri itu bertambahlah pengetahuan beliau tentang ke adaan penghidupan dan tabiat manusia, ke adaan bahwa yang menimbulkan perbedaan adat dan ahlak, sangat berguna bagi beliau sebagai alat untuk mempertimbangkan hukum peristiwa-peristiwa yang akan beliau hadapi. Kemudian beliau diminta oleh khalifah Harun Ar Rasyid supaya tetap di bagdad, setelah beliau tetap di bagdad disanalah beliau menyiarkan agama dan pendapat-pendapat beliau di terima segala lapisan baik terhadap rakyat maupun pemerintah, dimana beliau bergaul bertukar fikiran dengan ulama-ulama terutama sahabat Imam Abu Hanifah sehingga dengan pergaulan dan pertukaran fikiran itu beliau dapat menyusun pendapat Qadim (pendapat beliau yang pertama).

Kemudian kembali ke Makkah sampai tahun 198 H. Pada tahun itu beliau sampai di Mesir dan disana beliau menyusun pendapat beliau yang baru (qaulul jadid), kata-kata safi'i yang perlu menjadi perhatian, terutama bagi ulama yang menyokong dan mengikuti mazhab Syafi'i ialah apabila hadist itu sah, itulah Mazhabku dan buangkanlah perkataanku yang keluar dari Ijtihadku, pengikut mazhab Syafi'i yang terbanyak di Mesir, Kurdistan, Yaman, Aden, Hadraamaut, Makkah, Pakistan, Indonesia dan lain-lain.

4. Mazhab Hanbali. Nama penyusunnya Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal, beliau di lahirkan di Bagdad dan meninggal dunia pada hari Jumat tanggal 12 Rabiul Awwal tahun 241 H. beliau belajar semenjak kecil di Bagdad Syam Hijaz dan Yaman, beliau adalah murid dari Imam Syafi'i.

Syafi'i memuji beliau, katanya Saya keluar dari Bagdad tidak saya tinggalknan disana seorang yang lebih taqwa, lebih wara, lebih alim selain dari Ahmad bin Hanbal, yang sungguh bayak menghafis Hadist.

Murid beliau banyak yang terkekmuka di antaranya Bukhori dan Muslim, beliau berpegang teguh peada fatwa sahabat apa bila tidak ada nas, beliau susun mazhab beliau atas empat dasar. dasar pertama na Qur'an, dasar kedua fatwa sahabat, dalam satu peristiwa apa bila tidak ada nas yang bersangkutan dengan peristiwa itu, beliau cari fatwa sahabat-sahabat: apabila ada fatwa dari salah seorang sahabat, sedang beliau tidak melihat bantahannya dari sahabat-sahabat lain, beliau hukum kan peristiwa itu dengan fatwa sahabat tadi.

Jika fatwa itu berbeda antara beberapa sahabat beliau pilih yang lebih dekat kepada kitab atau sunnah
dasar ketiga Hadist mursal atau lemah apabila tidak bertentangan dengan dalil-dalil yang lain, dasar ke empat, qias beliau tidak memakai qias kecuali tidak ada jalan lain.

Beliau sangat hati-hati melahirkan fatwa apabila tidak ada nas atau atsar sahabat, sehingga kemungkinan besar karena sangat hati-hati beliau menjalankan fatwa itu, menyebabkan lambatnya mazhab beliau tersiar di daerah-daerah yang jauh, apabila murud-murid beliaupun sangat berhati-hati pula.
Mula-mula mazhab itu tersiar di Bagdad kemudian berangsur-angsur keluar ke daerah-daerah itu, sekarang yang terbayak pengikutnya di Hijaz, apalagi sesudah di tetapkan oleh raja Ibnu Sa'ud menjadi mazhab resmi bagi pemerintah Sau'ud Arabia.

Di Mesir tidak nampak mazhab ini kecuali pada abat ke tujuh Hijriah. Hanya sekarang tidak banyak rakyat Mesir yang mengikuti mazhab ini.